Friday December 6, 2019
HomeBeritageneral /  Pelestarian Lingkungan Hidup Tanggung Jawab Setiap Orang
Pelestarian Lingkungan Hidup Tanggung Jawab Setiap Orang PDF Print E-mail

Banjarbaru Kalsel, 11/11 (Puslitbang 1) - “Melestarikan lingkungan hidup bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pemimpin negara saja, melainkan tanggung jawab setiap insan di bumi“, demikian pernyataan Prof. Dr. Dedi Djubaedi, M.Ag Kepala Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama dalam acara penutupan workshop Pemeliharaan Lingkungan melalui Peran Komunitas Agama dengan Pendekatan PAR (Participatory Action research) di Kota Banjarbaru. Lebih lanjut beliau juga menyatakan, “Saya berharap kontribusi dan implementasi nyata dari kegiatan ini di masyarakat, karena melestarikan lingkungan hidup merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi, harus dimulai sejak saat ini dan oleh semua orang, tidak harus pemerintah”.

Prof. Dr. H. Dedi Djubaedi, M. Ag berharap agar kegiatan yang dilaksanakan ini tidak hanya terhenti dan memiliki arti hanya sebagai sebuah kegiatan seremonial belaka akan tetapi ada tindak lanjut nyata yang diimplementasikan di masyarakat sebagai sebuah wujud nyata peran serta para tokoh agama yang notabene sering berada di tengah-tengah masyarakat, dalam upaya bersama sama memelihara lingkungan.

Workshop Uji Coba Modul Pemeliharaan Lingkungan melalui Peran Komunitas Agama dengan Pendekatan PAR (Participatory Action Reasearch) ini dilaksanakan sejak tanggal 8 sd 11 November 2013 di Hotel Permata In Kota Banjarbaru. Kegiatan ini diprakarsai oleh Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama bekerjasama dengan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) serta secara teknis dilaksanakan oleh Kantor Kementerian Agama Kota Banjarbaru.

Abdul Jamil, S.Ag, M.Si selaku ketua pelaksana kegiatan pemeliharaan lingkungan sengaja dilakukan di Kalimantan Selatan karen berdasarkan data dari BNPB tahun 2010 Kalsel adalah provinsi tertinggi ke enam yang banyak mengalami kejadian bencana alam setelah Jabar, Jateng, Jatim, Sulsel, dan NTT. Terkait digunakannya pendekatan PAR dalam workshop beliau menyatakan “Bencana alam yang banyak terjadi di Indonesia saat ini, lebih disebabkan karena adanya kerusakan ekologis yang itu banyak disebabkan ulah manusia, untuk itu melalui pendekatan PAR masyarakat diharapkan lebih banyak terlibat”.

Latar belakang dilakukannya kegiatan sendiri adalah karena Indonesia saat ini tengah mengalami krisis lingkungan yang akut. Sebab, munculnya berbagai bencana karena kerusakan faktor lingkungan yang disebabkan exploitasi manusia terhadap alam secara membabi buta. Sebagai sebuah negara yang kental dengan nuansa religius, sudah tentu peran aktif dari kalangan agamawan dalam ikut serta mengatasi kerusakan lingkungan merupakan keniscayaan yang tidak bisa ditawar.

Sementara PAR sendiri adalah salah satu pendekatan akademik di bidang pengembangan dan pemberdayaan masyarakat dengan penekanan pada penemuan masalah, analisis, perencanaan, dan aksi yang partisipatif melibatkan masyarakat. Melalui PAR diharapkan masyarakat dan persoalan yang dihadapinya berubah ke arah yang lebih baik, dan pada akhirnya pembangunan yang dilakukan akan berwawasan lingkungan.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut diikuti oleh 30 orang peserta yang terdiri dari unsur Penyuluh Agama Muslim, Tokoh Agama Non Muslim, Pimpinan Majelis Taklim, Pimpinan Pesantren, Pimpinan Ormas Keagamaan, Balai Diklat, dan Unsur Kemenag Kota Banjarbaru. Sementara para narasumber adalah dari MUI dan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Kota Banjarbaru, dan LPBINU.

Kegiatan ini disambut baik oleh para peserta. Pgs. Kankemenag Kota Banjarbaru Drs. H. Syukeriansyah dalam sambutannya pada acara penutupan Workshop. “Kami menyambut baik dan berterima kasih atas kepercayaan Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama yang sudah memilih Kota Banjarbaru sebagai tempat penyelenggaraan Workshop Uji Coba Modul Pemeliharaan Lingkungan ini, dan mudah-mudahan ini membawa manfaat yang besar dan pengaruh yang nyata terhadap upaya pelestarian lingkungan di Kota Banjarbaru”. (AJW)

 
Copyright © 2019. Puslitbang Kehidupan Keagamaan.